D0MLSKs3HUAY5JANnDpgOuWdyVfOIVZqDnS7zqVx

Tentang Saya

Foto Saya
Do it before it is too late.

Sakius Bapau Peserta Didik Kelas V yang Masih Belajar Membaca | SM-3T | SD Inpres Biopis

Guru SM-3T, Pak Yogi yang sedang mengajarkan Sakius Bapau peserta didik kelas V SD Inpres Biopis yang belum bisa membaca, menulis dan menghitung. | Dokumentasi 6 April 2017
Sakius Bapau adalah peserta didik yang duduk dibangku kelas V SD Inpres Biopis tahun pelajaran 2016-2017. Jika kalian melihat tampilan fisiknya mungkin tidak percaya bahwa dia masih kelas V serta yang ironisnya sendiri dia belum bisa membaca, menulis dan menghitung. Ada sekitar 2 orang peserta didik yang umurnya cukup tua yang duduk di kelas V pertama Sakius Bapau, kedua Robertus Sakar. Keduanya masih belum bisa membaca, menulis dan menghitung. Beberapa guru SD Inpres Biopis mengatakan bahwa Sakius ini umurnya sudah sangat tua, bahkan ada yang bilang dia lebih tua dari guru kelasnnya. Bisa dibayangkan oleh kalian sendiri saya lahir tahun 1993 jika Sakius lebih tua dari saya berarti dia lahir mungkin saja tahun 1992 atau 1990.

Walaupun dengan fisik dan umur yang cukup tua untuk peserta didik yang duduk di bangku kelas V tapi perlu diketahui Sakius ini tidak pernah malu untuk terus belajar, selain umurnya yang sudah tua begitupun juga dengan kemampuanya juga yang belum bisa membaca, menulis dan menghitung tidak pernah membuat dia berhenti untuk tetap duduk dikelas V. Ketika awal kehadiran saya ke SD Inpres Biopis serta di tempatkan menjadi Guru Kelas V keadaan Sakius sangat menghawatirkan, bisa dibilang dia itu buta huruf dan buta angka. Dia bisa menghitung sampai 10 tapi tidak tahu mana angka 1 sampai dengan 10, begitu juga dengan membaca dia tahu A sampai dengan Z akan tetapi tidak tahu mana huruf A sampai dengan Z.

Sebagai guru SM-3T yang ditempatkan pemerintah di SD Inpres Biopis tentunya saya memiliki kewajiban untuk merubah keadaan yang saya temukan di SD Inpres Biopis. Walupun latar belakang saya bukan lulusan PGSD karena saya ditempatkan di sekolah dasar saya harus bisa menjadi guru untuk seluruh peserta didik di SD Inpres Biopis. Keberadaan peserta didik yang seperti Sakius ini cukup banyak di SD Inpres Biopis, seperti di kelas VI yang guru kelasnya pak Ridwan terdapat sekitar 5 orang peserta didik yang keadaannya tidak jauh dengan Sakius.

Setiap harinya Sakius ini dilatih untuk menghapal huruf dan angka, saya butuh waktu 1 bulan saja untuk membuat Sakius hapal huruf dan angka. Setelah dia tahu yang mana huruf A sampai Z serta Angka 1 sampai dengan 20, kemudian dilajut dengan membaca suku kata disinilah butuh waktu yang cukup lama supaya Sakius bisa mengabungkan suku kata menjadi kata serta membaca suku kata menjadi kata. Sayapun sempat mengajarkan membaca, menulis dan menghitung sambil dibarengi dengan emosi karena dia itu betul-betul susah mengerti apa yang sudah dijelaskan. Begitu juga untuk menghitung satu ditambah satu saja dia tidak tahu jawabannya berapa, padahal saya sudah mencoba mencontohkan melalui media jari tangan, kertas yang digulung-gulung serta biji manik-manik.


Walupun saya terkadang mengajarkan Sakius dengan sedikit emosi, dia tidak pernah berani marah kepada saya, justru dia seperti takut kepada guru itu. Perlu diketahu juga yah Sakius itu merupakan Wakil ketua murid di kelas V, sengaja saya pilih Sakius menjadi wakil ketua murid supay dia mendapat motivasi karena telah dipercaya dan diberi tanggungjawab untuk menjadi wakil ketua Murid. Karena dari segi umur dia lah yang paling tua dikelas serta perawakannya yang memiliki badan yang tinggi dan besar, membuat Sakius sedikit agak di takuki dikelas. Jika dikelas berisik dialah yang mengamankannya, sekali Sakius berteriak diam, sambil menggebrak menja seluruh peserta didik langsung terdiam.

Sampai dengan tanggal 6 Juni 2017 yaitu hari terakhir saya di Kampung Biopis, Sakius mengalami kemajuan yang cukup pesat, dia sudah bisa menggabungkan beberapa kata menjadi kalimat, serta sudah bisa membaca beberapa kata menjadi kalimat. Untuk menghitung sendiri Sakius sudah bisa menghitung penjumlah yang ringan saja seperti dua ditambah dua, tiga ditambah dua, dia sudah bisa menghitung penjumlah bilangan satuan. Begitupun untuk pengurangan dia sudah mengerti pengurangan bilangan satuan saja. Untuk perkalian saya belum sempat mengajarkannya karena pasti dia akan sangat kesulitan sekali, sehingga yang saya ajarkan hanya penjumlahan dan pengurangan angka kecil saja atau bilangan satuan saja.

Sekarang jika Sakius dilanjutkan sekolah, seharusnya dia sudah duduk di bangku kelas VII. Semoga saja Sakius masih ingat kepada guru kelasnya Pak Yogi yang sudah memarahi dia karena emosi melihat peserta didiknya yang sulit mengerti atau paham ketika belajar membaca, menulis dan menghitung.
Related Posts
Muhamad Yogi
Do it before it is too late.

Related Posts

Posting Komentar